Friday, November 8, 2013



Kembali kepada Sang Khaliq
Mengenang Almarhum H. Achmad Muchidin

Jumat tanggal 23 Agustus 2013 atau 16 Syawal 1434 H, sekitar pukul 03:00 WIB, ayahanda kami dalam usia 71 tahun, menghembuskan nafas terakhirnya di RS Pelabuhan Cirebon, setelah seminggu menjalani perawatan termasuk 5 hari di ruang ICU. Ayahanda lahir di Purwokerto 17 Agustus 1942, merupakan anak ke 3 dari 8 bersaudara keluarga H. Achmad Juhdi. Beliau menderita hipoglikemia, atau penurunan kadar gula darah sehingga mengalami pingsan dan berakibat pada terganggunya jaringan syaraf di otak.

Ayahanda kami, H. Achmad Muchidin bin H. Achmad Juhdi bin Hasan Ilyas bin Hasan Rais bin Suramenggala, lahir ketika masa-masa penjajahan Jepang, dimana kondisi waktu itu memang serba sulit, karena beberapa kali terpaksa mengungsi. Ayah dari Achmad Muchidin, yaitu H. Achmad Juhdi, merupakan salah satu ulama atau tokoh Islam di Purwokerto, khususnya di Kelurahan Bantarsoka, tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Purwokerto. Acara pengajian rutin senantiasa dilakukan di mushalanya yang sekarang sudah menjadi masjid.
H. Achmad Muchidin sewaktu kecil, sering dititipkan ke keluarga lain, dengan alasan masalah kesulitan ekonomi. Sewaktu sekolah dasar, H. Achmad Muchidin kecil, ikut ke keluarga Mbah Sudirman di Kebumen, dan setelah itu ikut keluarga Mbah Topo di Jakarta. Setelah kembali ke Purwokerto, H. Achmad Muchidin, menyelesaikan pendidikan SMP dan PGA (Pendidikan Guru Agama selevel SMA). Setelah itu kembali ke Jakarta tinggal di rumah paman, Keluarga H. Khalil, tepatnya di seberang Stasiun Pos Duri, Jembatan Besi, Jakarta Barat. Beberapa pekerjaan pernah dilakukan mulai dari jualan permen dan rokok di Stasiun Kota (Beos), petugas langsir untuk KA, dan beberapa pekerjaan serabutan lainnya. Suatu ketika, almarhum diterima sebagai petugas cleaning service di sebuah instansi milik pemerintah, tidak jauh dari Stasiun Kota. Dengan bekal keahlian mengetiknya, akhirnya almarhum bisa menjadi pegawai tetap instansi tersebut, dengan posisi sebagai staf administrasi. Pernah suatu ketika, almarhum mengatakan, bahwa seumur hidupnya mengalami minum teh manis itu setelah bekerja di Jakarta, karena selama masa kecilnya hanya minum air putih, karena sulitnya hidup pada masa itu.

Menikah dengan Hj. Sugiarti (kelahiran Sumpiuh, Banyumas), pada tahun 1968, almarhum dikaruniai 5 orang anak. Awal-awal menikah, sampai kelahiran anak pertama, masih harus bolak-balik Jakarta-Purwokerto, karena memang belum mapan untuk tinggal di Jakarta. Hingga akhirnya keluarga dibawa ke Jakarta dan mengontrak sebuah rumah kecil tidak jauh dari Stasiun Pos Duri. Disitulah anak kedua dan ketiga lahir, melengkapi kebahagiaan almarhum yang pekerjaannya sudah mulai mapan. Akhirnya, almarhum memutuskan pindah ke Cirebon, tahun 1976 ketika ada tawaran mutasi ke kantor cabang yang baru dibuka di kota udang itu.

Masa awal di Cirebon
Awal-awal di Cirebon, almarhum mengontrak rumah di dalam gang di daerah Klayan. Seiring waktu akhirnya bisa membeli tanah di depan rumah kontrakan dan dibangunlah sebuah rumah sederhana. Waktu itu memang listrik masih awal-awal masuk ke daerah tersebut. Kadang untuk nonton acara TVRI, harus pergi ke kompleks Pertamina Klayan, yang jaraknya sekitar 1 km. Sekitar tahun 1988, keluarga almarhum pindah ke sebuah perumahan di Pilang, dengan alasan kenyamanan, maklum karena rumah lama yang di dalam gang, sudah dikelilingi oleh tembok-tembok besar, sehingga kurang nyaman dalam ventilasi dan lainnya.
Di rumah Klayan inilah, almarhum setelah bada maghrib, mengajarkan kami, anak-anaknya mengaji, di mushala kecil di atas loteng. Karena rutinitas kantornya yang semakin sibuk dan sering pulang larut malam (almarhum memang termasuk pekerja keras), akhirnya almarhum mendatangkan guru ngaji (ust Rapisa) untuk mengajarkan kami mengaji dan ilmu agama lainnya di malam harinya. Sementara sore hari, kami mengikuti madrasah sore di masjid dekat rumah.     

Hijrah ke Pilang
Di rumah baru di Pilang, almarhum mulai aktif di kegiatan masjid perumahan, yang memang suasana perumahan masih sepi belum seramai saat ini. Aktifitas di Masjid Al Muhajirin ini mulai meningkat, ketika almarhum memasuki usia pensiun dan setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 2000. Selama kurang lebih 10 tahun, sampai dengan akhir hidupnya, almarhum mendapat amanah sebagai bendahara DKM. Amanat ini dikelola dengan baik, melalui pembukuan yang profesional karena memang bidang inilah yang digeluti almarhum semasa kerjanya. Satu hal yang patut dicontoh kita sebagai seorang muslim, almarhum selalu konsisten datang ke masjid untuk shalat wajib, sebelum adzan berkumandang, bahkan beliau sendiri yang adzan dan kadang menjadi imam. Waktu pagi sekitar jam 4 pagi, sebelum subuh, beliau sudah berada di masjid sambil membangunkan para warga melalui speaker masjid. Apalagi di waktu shaum ramadhan, aktifitas tersebut selalu dilakukan almarhum.

Pengalaman lain
Semasa kecil, saya dan adik selalu diajak shalat Jumat di masjid At Taqwa, masjid terbesar di kota Cirebon. Yang seperti biasa, setelah itu kami minum es kelapa muda, yang terletak tidak jauh dari masjid, dekat dengan pintu rel KA. Begitu pula jika hari libur, Ayahanda mengajak saya dan adik, pergi naik motor vespa ke kebun dan daerah pertanian di sekitar Arjawinangun, dan pulangnya box motor vespa kami penuh dengan jambu merah. Kadang di hari libur kami ikut ke kantor, karena Ayahanda lembur. Sementara beliau bekerja, kami main perang-perangan pake penggaris kayu kantor, atau main drum, kadang memainkan mesin ketik, atau tiduran di sofa.
Sewaktu saya terkena paru-paru basah, sepulangnya dari survei di Teluk Bintuni, Papua, sambil menunggu tindakan dokter untuk menyedot cairan di paru-paru kiri, Ayahanda mengajak saya ke tabib gurah di suatu pondok pesantren di daerah Arjawinangun, dan beberapa hari kemudian dokter yang akan menyedot cairan di paru-paru saya terkaget-kaget, dan mendiagnosis bahwa cairan di paru-paru saya sudah banyak berkurang, dan untuk itu hanya perlu minum obat antibiotik saja.
Pengalaman berharga lainnya, sekitar 2 tahun yang lalu, Ayahanda datang sendirian menjenguk  ke Cibinong ketika saya sakit keras, padahal belum lama Ayahanda dirawat di RS Pertamina karena kadar gulanya naik.

Dini hari malam itu, Jum’at, 23 Agustus 2013 atau 16 Syawal 1434 H, pukul 03:00 WIB, Ayahanda kembali menghadap Sang Khaliq, dan beberapa saat sebelumnya dengan isyarat minta diperdengarkan rekaman murotal Quran dan tausiyah KH Zainuddin MZ, melalui HP yang dibimbing adik saya. Setelah itu nafas Ayahanda mulai melemah, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Pukul 11:15 WIB, jenazah Ayahanda, setelah sebelumnya dimandikan dan dikafani, dibawa ke Masjid Al Muhajirin, untuk disemayamkan sekaligus akan dishalatkan, setelah ibadah shalat Jum’at. Bada shalat Jum’at, pukul 12:25 WIB, dengan dihadiri oleh beberapa tokoh ulama dan puluhan jamaah yang memenuhi masjid, Ketua DKM, H. Bambang, membuka prosesi ini, kemudian sambutan pihak keluarga yang dibawakan oleh saya sendiri, selaku anak laki-laki tertua. Akhirnya Almarhum dishalatkan dengan diimami oleh adik saya. Acara diakhiri pembacaann doa oleh H. Ishomuddin Al Badawi, dengan suasana yang menjadi sangat haru, dan airmatapun tak terasa menetes, tak mampu lagi untuk ditahan.
Jenazah Ayahanda, dimakamkan di pemakaman Tedengjaya, sekitar 1 km, dari perumahan kami. Saya dan adik, menjadi orang terakhir yang mengantarkan almarhum ke liang kuburnya. Tak terasa berat, bahkan hampir tidak merasakan beban ketika menurunkan jasad almarhum. Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji’un, sesungguhnya kami adalah milik Alloh SWT, dan kepada-Nyalah kami kembali.

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu’anhu wa akrim nujulahu wawasysyi’ madkholahu waghsilhu bimaa in watsaljin wabarodin wanaqqihii minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsawbul abyadhu minad danasi wa abdilhu daaroon khoiroon min daarihii, wa ahlan khoiron min ahlihii waqihii fitnatal qobri wa ‘adzaabannaar. 
“Ya Alloh ampunilah ia, kasihanilah ia, sejahterakanlah ia, dan maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskan tempat diamnya, bersihkanlah ia dengan air, es dan embun, bersihkanlah ia dari dosa, sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya dahulu, dan gantilah ahli keluarganya dengan yang lebih baik daripada ahli keluarganya dahulu, dan peliharalah ia dari huru-hara kubur dan siksaan api neraka.” (HR. Muslim)

Cibinong, 8 November 2013

Friday, November 1, 2013


Mencari Hobi Olahraga, dari Karate sampai Snorkeling
Cerita perjalanan olahraga dari masa kanak-kanak sampai saat ini

Berbicara mengenai hobi khususnya olahraga, memang agak sedikit rumit. Maklumlah dari kecil sampai sekarang yang namanya olahraga jenisnya bisa bermacam-macam yang diminati dan celakanya, tidak ada satupun yang konsisten dan kontinyu dilakukan. Berikut ini saya akan mencoba menceritakan pengalaman olah raga dari mulai kanak-kanak sampai saat ini, dari mulai karate, sepak bola sampai snorkeling.
Cerita ini dimulai dari sekitar SD kelas 4, waktu itu saya dan adik saya mengikuti latihan karate, sesuai dengan arahan Bapak, untuk latihan rutin, bersama tim kantornya. Lumayan seru juga karate ini, latihan malam hari tiap minggu, dilakukan di gedung tua, eks kantor salah satu bank ternama di kota udang. Karate ini hanya bertahan 1-2 tahun, dan baru sekali ikut ujian karate, sehingga baru berhak atas sabuk kuning. Penyebab berhentinya, karena latihan yang selalu malam hari, kadang merepotkan Bapak untuk antar jemputnya, belum lagi waktu tersebut merupakan waktu belajar kita sehari-hari.
Bersamaan dengan karate, sebenarnya sudah mulai senang dengan sepak bola, bahkan ketika berumur 5 tahun, setelah final piala dunia yang dimenangkan oleh Argentina, besoknya saya dan adik saya, langsung dibelikan oleh Bapak, kaos timnas Argentina. Akhirnya puncak hobi sepakbola ini ketika saya memasuki awal SMP. Sebuah tim sepakbola kelas kampung, didirikan, dengan saya sebagai penggagas, pendiri, ketua dan sekaligus kapten tim. Nama tim kami adalah Tiger Jaya, yang terdiri dari anak-anak sekitar kampung yang mempunyai usia hampir sepantaran, terdiri dari 15 orang, termasuk adik saya. Ketika kaos tim pertama kali kami gunakan, maka menjadi momen yang benar-benar luar biasa, kesebelasan Tiger Jaya ini dalam euforia kebahagiaan. Kami melakukan arak-arakan keliling kampung dengan kaos baru kebanggaan kami. Terlihat pada waktu itu hampir seluruh warga menyambut gembira kehadiran tim Tiger Jaya. Maklumlah kaos yang kami pesan ini, hasil jerih payah tim untuk menabung uang jajan sekolah kami selama beberapa bulan, bahkan sebagian dari kami, mencari uang tambahan dengan menjadi barongan pada malam ramadhan.      
Singkat kata, tim kami selalu berlatih rata-rata sekitar 2-3 kali seminggu. Lapangan yang kami gunakan adalah lapangan di kompleks Pertamina, meski kadang kami kucing-kucingan dengan satpam. Maklumlah, lapangan itu khusus bagi para karyawan dan keluarga Pertamina, kami yang hanya warga kampung, tidak bisa menikmati lapangan tersebut, meski lapangan tersebut jarang digunakan. Jadi tim kami menggunakan lapangan tersebut hanya memanfaatkan kelengahan satpam saja. Alternatif lapangan yang kami gunakan biasanya di pekarangan atau halaman rumah orang bahkan di jalan, di sekitar kampung kami. Meski ini tentunya sering kali yang punya pekarangan atau orang yang lewat, keberatan dan sering menegur kami. Secara prestasi, memang tidak ada yang bisa kami banggakan, maklum tim Tiger Jaya, tidak pernah mengikuti kompetisi atau kejuaraan resmi. Kompetisi yang ada, biasanya ayam cup atau kambing cup, biasanya untuk level umur diatas kami pada waktu itu. Pertandingan yang sering kami lakukan biasanya hanya semacam persahabatan dengan tim lain. Dalam tim ini, posisi saya adalah midfielder, alias pemain tengah sekaligus second line bagi para striker. Ibaratnya kalau sekarang seperti Frank Lampard atau Stevan Gerrard, atau Evan Dimas (Timnas U-19) hehehe, yang selalu menjadi play maker bagi timnya. Saat itu saya adalah kapten tim, yang selalu memotivasi teman-teman lainnya baik dalam latihan maupun pertandingan. Waktu itu dalam benak saya, cita-cita yang diidam-idamkan adalah pelatih sepak bola untuk anak-anak.
Pada saat yang sama, bulutangkis dan tenis meja, mulai dipelajari dan bahkan pernah menjadi juara pertama ganda putera dan beregu untuk tingkat RT, di kedua cabang olahraga tersebut. Hanya memang kedua olahraga tersebut, sipatnya musiman, sewaktu-waktu ada agustusan, baru pada latihan. Khusus untuk tenis meja, telah saya ceritakan tersendiri dalam tulisan yang lain dari sudut pandang yang berbeda, karena menjadi salah satu kenangan terbaik dalam hidup ini.
Namun sayang, hanya sekitar 2-3 tahun, bulu tangkis dan tenis meja, termasuk tim kesebelasan Tiger Jaya harus berakhir. Keluarga saya memutuskan untuk pindah rumah ke suatu tempat baru, yang masih dalam satu kota. Dengan begitu, maka bubarlah tim kesayangan kami. Di tempat yang baru, di suatu kompleks perumahan, suasana baru dan adaptasi yang baru, membuat saya jadi kurang pergaulan. Lingkungan baru yang agak berbeda dengan suasana di kampung membuat saya lebih asyik bermain sendiri dan lebih disibukan dengan pelajaran sekolah. Hobi baru mulai muncul, saat Bapak, membelikanku sebuah sepeda balap yang sangat bagus waktu itu. Sepeda ini sebelumnya adalah milik seorang satpam, yang karena membutuhkan uang, akhirnya dijual ke Bapakku. Sepeda ini menjadi kendaraan sehari-hari ke sekolah yang waktu itu saya mulai masuk ke bangku SLA. Di waktu sore atau waktu libur, seringkali saya gunakan untuk mengayuh sepeda ini, kadang sampai keluar kota. Idola saya waktu itu adalah pembalap Jawa Barat, kakak adik Roni dan Robi Yahya. Cukup lama hobi ini saya jalankan sampai akhir masa SLA.
Pada saat yang hampir bersamaan, saya mulai menekuni olahraga renang, yang hampir tiap minggu dilakukan di kolam renang yang sekarang sudah berubah menjadi mall. Belajar renang dilakukan secara otodidak, dan kadang mencuri ilmu dari anggota tim renang yang sedang berlatih, termasuk Cathrine Surya, perenang nasional yang sempat bersinar walau akhirnya tenggelam karena kasus doping. Jadi selama SLA, olahraga yang mendominasi adalah renang dan balap sepeda. Prestasi renang cukup lumayan, terpilih menjadi anggota tim renang SLA yang berlomba untuk wilayah karesidenan, lomba renang antar SLA beberapa kota/kabupaten sekitar. Latihan serius, terus dilakukan untuk persiapan lomba renang tersebut. Turun di dua nomor sekaligus, yaitu 100 m gaya punggung dan estafet gaya bebas 200 m. Meski tidak sempat meraih medali, namun secara keseluruhan, sekolah kami meraih juara umum kedua, berkat prestasi renang puterinya. Ketika upacara bendera berlangsung di sekolah, sempat diumumkan nama-nama tim renang, dan maju ke depan lapangan upacara. Muncul rasa bangga atas sambutan meriah dari para guru dan siswa-siswa sekolah pada upacara bendera ini. Satu lagi olahraga yang saya ikuti sewaktu SLA, yaitu pencak silat sebagai kegiatan ekstrakurikuler, yang saya ikuti dari kelas 1 sampe kelas 2. Dua kali ikut ujian dan dua kali pula berganti sabuk. Sekali waktu pernah kami tampil menunjukkan kebolehan bela diri ini di depan para siswa baru. Namun olah raga ini lama-lama ditinggalkan karena jenuh dan kurang inovatif dalam setiap latihannya.
Lepas SLA, mulai masuk di salah satu PTN di Jawa Tengah, salah satu yang bisa dicatat disini berkaitan dengan olahraga, adalah naik gunung! Gunung Ungaran dengan ketinggian diatas 2000 m, menjadi gunung pertama yang didaki bersama temen-temen mahasiswa. Di puncak gunung itu, terlihat dengan jelas puncak gunung Merbabu dan Merapi pada arah selatan. Karena sesuatu hal, pindah kuliah ke PTN lain yang paling bergengsi di negeri ini, menjadi cita-cita, meski harus menunggu setahun, dan akhirnya dimulailah kuliah di kampus tempat kuliahnya presiden RI pertama. Awal semester, setiap mahasiswa wajib mengikuti mata kuliah olah raga umum, yang sebagian besar materinya adalah atletik, dan tes awal mata kuliah ini adalah dengan berlari sejauh 2,4 km atau 6 kali keliling stadion olahraga. Standar yang digunakan adalah standar uji fisik TNI, dimana untuk menempuh jarak 2,4 km harus ditempuh maksimal dalam 12 menit. Cukup tegang juga waktu itu, maklumlah tanpa persiapan dan latihan, saya menempuh jarak tersebut dalam 17 menit dan artinya berat bagi saya untuk mendapat nilai kuliah terbaik. Tapi, hasil ini tidak membuat saya putus asa, hampir seminggu 3 kali, saya selalu berlatih di lapangan Gasibu, sambil mengontrol waktu tempuh yang menjadi target saya. Hasilnya dalam tes lari di pertengahan semester, saya dapat menempuh waktu 15 menit, lumayan meski kurang baik, setidaknya ada peningkatan. Latihan terus saya intensifkan, dan akhirnya pada tes akhir lari sejauh 2,4 km, saya dapat menembus waktu 12 menit, dan ketika pengumuman, nilai mata kuliah saya ini mencapai yang terbaik, yaitu nilai A. Untuk semester 2, mata kuliah olahraga yang diikuti adalah pilihan, dan tentu saja saya memilih renang, yang merupakan olahraga favorit di waktu SLA. Dengan tanpa kesulitan nilai A pun dapat saya raih di akhir semester 2 ini. Sewaktu kuliah di Bandung ini, sayapun mengikuti pencinta alam di himpunan jurusan dan sempat mengikuti masa pengembaraan Wanadri meski tidak selesai. Beberapa gunung seperti Papandayan, Manglayang, Guntur dan Tangkuban Perahu (lewat lajur pendakian cihideung), didaki bersama teman-teman himpunan dan Wanadri.
Saat ini, olah raga yang sedang ditekuni adalah sepeda. Bukan cuman ngikuti trend saat ini, namun lebih karena kebutuhan akan kesehatan dan praktis. Tiap pagi sebelum ke kantor, itupun kalo lagi niat sih, minimal 30-60 menit mengayuh sepeda di sekitar Cibinong. Lumayan terasa enak di badan, cuman kadang polusi udara sudah lumayan membuat udara jadi tidak fresh, sebagai pilihannya tentu masuk ke jalan kampung-kampung. Namun, musim hujan yang akhir-akhir ini melanda khususnya kota kami, akhirnya sudah lama juga, sepeda jadi nganggur.
Ada satu lagi yang nampaknya akan menjadi hobi baru, yaitu snorkeling. Ya, Snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal (skin diving) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel. Selain itu, penyelam sering mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong pada kaki. Olahraga ini banyak menarik minta pecinta laut bukan hanya sekedar menikmati indahnya pemandangan bawah laut yang amat menakjubkan, melainkan juga untuk tujuan mulia yaitu menjaga dan melestarikan kekayaan biota laut. Kini bukan hanya para pecinta laut saja yang dapat dengan mudah bersnorkeling ria di berbagai laut yang mempesona, namun para pemulapun telah banyak melakukan olahraga ini untuk sekedar mencoba bagaimana bersnorkeling untuk men-tafakuri alam dan menyadari kebesaran dan keagungan Sang Khaliq. 



Kegiatan ini pertama kali saya lakukan ketika ada kegiatan diklat penginderaan jauh untuk kelautan, yang salah satu materinya adalah praktek lapangan ke Karimunjawa. Awalnya agak susah mengatur nafas yang biasanya lewat hidung, menjadi lewat mulut. Tetapi lama kelamaan jadi asyik juga, ketika nafas sudah mulai teratur melalui mulut, dan sambil menyaksikan pemandangan di bawahnya berupa pasir laut dan sedikit lamun. Namun sayang berhubung waktunya yang terbatas, belum sempat disaksikan karang laut dan obyek lainnya. Dalam hati berjanji, kalau ada kesempatan ke pulau-pulau yang indah pemandangan bawah airnya, tidak akan luput dari aktivitas snorkeling. Kalau selama ini survei hidrografi yang sering dilakukan, tidak pernah terfikir untuk nyelam, bahkan ketika 7 tahun di kontraktor migas baik yang sekitar pantai maupun lepas pantai, walaupun kesempatan itu ada.

Karimunjawa, 24 Maret 2013       


Bagaimana agar produk peta LPI terus bertahan?
Fajar Triady Mugiarto
Staf Pusat PKLP, BIG

Dalam suatu kesempatan mengikuti workshop pengusaha muslim di warung Kondang, Bogor, pengisi workshop ustadz Safin alias Samsul Arifin (salah satu pengusaha dan motivator muda terbaik di negeri ini), membawakan tema bagaimana agar bisnis bisa bertahan dan berkelanjutan. Ustadz Safin, menerangkan metode agar bisnis tetap bertahan, yaitu metode Berlian. Singkatnya berlian mempunyai empat sisi, dimana masing-masing sisinya terdiri atas Value, Market Ideal, Passion dan Purpose of Life.

Baik akan coba saya jelaskan secara singkat penjelasan dari keempat elemen yang akan membuat bisnis kita bertahan ini. Yang pertama adalah Value, yang artinya nilai atau manfaat. Artinya bahwa bisnis kita harus mampu membantu client/user/pihak lain untuk menyelesaikan masalahnya atau untuk mendapatkan solusinya. Disamping itu, value juga berarti jasa atau produk kita membantu mencapai dream bagi para pengguna. Dan yang ketiga dari value ini adalah produk atau jasa kita harus unik, mempunyai ‘sesuatu’ yang berbeda dengan produk sejenis.
Yang kedua, dari prinsip Berlian adalah Market Ideal, yaitu orang-orang membutuhkan produk atau jasa yang kita hasilkan dan siap ‘membayar’ sesuai dengan syarat dan ketentuan yang kita tetapkan. Dalam bisnis, prinsip fit to all itu tidak ada, yang artinya memenuhi harapan semua pihak itu tidak mungkin, jadi harus ditentukan siapa target market ideal kita. Teknik mencari market ideal, yaitu dengan mencari informasi demografi atau data kependudukan, SES (Sosial Ekonomi Status), Psycography (gaya hidup/kecenderungan).
Yang ketiga dari prinsip berlian adalah Passion, yaitu semangat atau gairah, dalam menjalankan bisnis atau pekerjaan kita. Jadikan pekerjaan kita itu fit to me “gue banget” agar terjaga “suistanability” (keberlanjutan).
Yang terakhir dari prinsip berlian adalah Purpose of Life atau tujuan hidup, yang sangat tergantung dari niat/intention. Kebanyakan orang berbisnis karena kepepet, sehingga grasak grusuk, bonek, dan hati-hati dengan positive thinking (bila digunakan dalam situasi yang tidak tepat). Mempunyai niat untuk berkontribusi kepada umat (menolong agama Alloh SWT), merupakan salah satu alasan orang dalam menjalani hidupnya.
Kira-kira singkatnya adalah seperti itu, mohon maaf bila banyak sebenarnya yang didapat dari acara workshop pengusaha muslim, namun karena keterbatasan penulis dalam merangkum apa yang sudah ustadz Samsul Arifin sampaikan. Sepanjang jalan pulang dari acara tersebut, saya berandai-andai, apakah bisa prinsip Berlian itu diterapkan dalam pekerjaan instansi pemerintah, khususnya di lingkungan Badan Informasi Geospasial, dimana penulis bekerja. Maklumlah sampai saat ini, penulis masih ‘blusukan’ di instansi pemerintah, meski ada sih sedikit usaha sampingan yang insya Allah tidak mengambil waktu saya dalam bekerja sebagai PNS. Oke deh, kembali ke ide semula, apakah bisa ini digunakan di lingkup pekerjaan instansi pemerintah? Baik saya akan coba membahas bagaimana prinsip Berlian ini diterapkan di lingkungan BIG, khususnya di unit kerja saya sendiri, di Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai.
Seperti kita ketahui, bahwa salah satu produk Pusat PKLP adalah peta Lingkungan Pantai Indonesia, khususnya skala 1:50.000. Produk itu diperkuat dengan landasan UU No.4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, pasal 7 yang menyatakan peta LPI sebagai salah satu peta dasar. Dengan menggunakan prinsip Berlian, saya akan mencoba mengupas produk peta LPI. Anggap saja peta LPI adalah produk ‘dagangan’ BIG, bagaimana agar bisnis produk peta LPI ini tetap bertahan dan berkelanjutan.

Kita mulai dengan sisi Berlian yang pertama yaitu Value. Apa sih sebenarnya value atau nilai atau manfaat dari peta LPI? Menurut UU No.4 tentang IG, pasal 1, bahwa definisi peta LPI adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir. Sesuai dengan UU No.27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, bahwa definisi wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Jadi peta LPI ini adalah peta gabungan informasi daratan dan laut dalam satu nomor lembar peta dengan sistem proyeksi peta dan sistem koordinat yang sama. Adapun unsur-unsur peta LPI yang disajikan adalah unsur garis pantai, hipsografi (kontur kedalaman laut), dan informasi perairan lainnya, termasuk informasi daratnya yang biasanya diambil dari peta Rupabumi Indonesia. Data atau informasi yang ada pada peta LPI dapat digunakan sebagai peta dasar dalam berbagai aktivitas pembangunan khususnya daerah yang mempunyai wilayah pesisir, mulai dari perencanaan, pengelolaan dan pengawasan. Dari sini, maka peran peta LPI menjadi sangat penting, seperti dalam penentuan batas wilayah laut baik bagi kabupaten, provinsi maupun batas negara. Batas wilayah ini akan juga menunjang dalam penentuan tata ruang atau zonasi pesisir bagi perencanaan pembangunan daerah. Aspek rekayasa lain juga memerlukan peta LPI sebagai peta dasar dalam pemilihan alternatif lokasi pelabuhan, rencana alur kapal, maupun rekayasa lain dalam bidang tambang dan migas. Aspek kebencanaan alam yang sudah menjadi isu nasionalpun, seperti tsunami, banjir, rob, abrasi, sedimentasi, pencemaran laut, kenaikan muka air laut,  memerlukan peta dasar seperti peta LPI, yang dapat membantu memberikan solusi dalam mitigasi dan penanganan pasca bencana.
Peta LPI dengan data gabungan data darat dan data laut dalam satu sistem koordinat dan sistem proyeksi peta yang sama, menjadikan peta LPI adalah peta yang unik. Selama ini peta Rupabumi Indonesia hanya terdiri dari unsur darat saja, begitu juga dengan peta laut (Dishidros TNI AL) yang hanya memiliki informasi laut saja.
Sisi kedua dari Berlian, yaitu Market Ideal, yaitu dengan semua provinsi di negeri ini memiliki pesisir, dan sekitar 60% kabupaten/kota yang memiliki pesisir, maka sesungguhnya market ideal peta LPI sangat terbuka lebar. Apalagi sebagian besar penduduk Indonesia tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir, dan sebagian besar wilayah kita ini rawan dengan bencana alam. Dari sini akan terlihat bahwa market ideal peta LPI, mulai dari instansi pemerintah yang berkepentingan seperti KKP, BMKG, KLH, BNPB, Kementerian Kesra, Kementerian PU, Perhubungan Laut, Kementerian ESDM, Kemendagri, Bappenas, dan instansi Pemerintah Daerah (Bappedda). Instansi swasta yang bergerak dalam bidang rekayasa zona pesisir juga merupakan salah satu market ideal peta LPI, terutama yang bergerak dalam bidang reklamasi pantai, pembangunan infrastuktur pesisir, dan sektor lainnya. Peta LPI juga dapat digunakan dalam aktivitas penelitian baik oleh lembaga penelitian seperti LIPI, BPPT, Kementerian Ristek, maupun lembaga-lembaga akademis lainnya.
Yang ketiga dari prinsip Berlian adalah Passion, yaitu semangat atau gairah, dalam menjalankan bisnis atau pekerjaan kita. Hal ini tentunya menyangkut internal kita sebagai pegawai di BIG, atau khususnya di Pusat PKLP yang menjadi ‘dapur’ pembuatan peta LPI. Tentunya setiap pegawai harus memahami ‘bisnis proses’ yang ada, memahami bahwa memberikan pelayanan dan kontribusi terbaik dalam setiap aktivitas kegiatannya. Hadir di kantor tidak sekedar memenuhi absensi semata, dan hanya menunggu perintah atasan. Harus lebih dari itu, mempunyai visi untuk menjadikan produk peta LPI menjadi yang berkualitas, aktif dalam memberi sumbang saran bagi kemajuan di Pusat PKLP, dan ikut memonitor setiap aktivitas setiap kegiatan di kantor. Bahwa peta LPI itu adalah produk kita bersama. Apalagi saat ini BIG sedang dalam fase menuju Reformasi Birokrasi, dimana salah satu aspek penting dalam bekerja adalah berbasis kinerja. Jadikanlah pekerjaan kita dalam memproduksi peta LPI itu fit to me atau “gue banget” agar terjaga “suistanability” (keberlanjutan).
Yang terakhir dari prinsip Berlian adalah Purpose of Life atau tujuan hidup, yang sangat tergantung dari niat/intention. Masalah niat memang harus selalu diluruskan. Ibarat heading kapal ketika menuju suatu tempat tertentu, harus selalu dicek dan dikoreksi headingnya, karena bisa jadi headingnya sedikit berubah akibat faktor eksternal, seperti angin, arus laut, ombak dan lainnya. Begitu juga pegawai pemerintah, setiap saat perlu kita renungi dan koreksi niat kita bekerja ini. Bagi kaum muslimin, bekerja harus diniati untuk beribadah, yang semata-mata mencari ridho Alloh SWT. Jadi setiap yang kita perbuat tentunya berlandaskan rambu-rambu yang telah dibuat Sang Pencipta alam semesta ini, dan setiap perbuatan kita kelak akan diminta pertanggungjawaban.  
Cibinong, 29 Januari 2013

Monday, October 28, 2013

Perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja



Perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja

Kali ini, saya dan dua rekan unit kerja lainnya, mendapat tugas untuk menghadiri rapat dan seminar ASEAN FLAG di Phnom Penh, Kamboja. Setelah melalui proses pengurusan administrasi di kantor yang cukup ‘mendebarkan’, akhirnya 1 jam setelah menerima exit permit paspor dinas, kami bertiga malam itu meluncur ke bandara Soekarno Hatta.
Pesawat yang kami tumpangi adalah Malaysia Airlines, yang harus transit di Kuala Lumpur sebelum menuju Phnom Penh. Singkat kata tibalah kami di bandara Phnom Penh sekitar pukul 11:00 waktu setempat, yang sama dengan waktu di Jakarta. Dari bandara kami dijemput oleh pihak panitia, menggunakan mobil mewah Mercedes E Series. (maklum gini-gini kita delegasi resmi Indonesia hehehe...). Oya, di Kamboja, posisi stir mobil ada di sebelah kiri, mirip di Filipina, pantesan saja saya sempet salah membuka pintu supir (ndeso banget hihihi...).
Suasana jalan dan kota, yang mirip dengan Jakarta, malah mungkin lebih pas dengan suasana kota di Jawa Tengah, seperti Semarang. Masih banyak pengemis, rumah-rumah kumuh di pinggiran kota. Sepanjang jalan terlihat banyak sekali mobil mewah, yang jarang di temui di Jakarta, namun ini berbanding terbalik dengan kondisi sepeda motornya yang jadul-jadul. Waktu itu, terlihat juga banyak polisi yang berjaga-jaga untuk menangani demontrasi yang cukup besar hari ini, yang menuntut perhitungan suara ulang atau pemilu ulang, yang dilakukan oleh pihak oposisi di Kamboja. Melalui jalan yang sedikit macet, akhirnya kami sampai di hotel, dengan waktu tempuh sekitar 40 menit dari bandara.
Setelah check in di hotel Cambodiana, di tepi Sungai Mekong, (jadi teringat pelajaran sejarah waktu SMP, sungai ini menyimpan banyak sejarah), kami pergi makan siang menggunakan transportasi Tuk Tuk (transportasi semacam delman ditarik pakai sepeda motor), mencari tempat makan muslim/halal restoran, untuk kepastian kehalalan makanannya. Setelah muter-muter mencari tempat makan, akhirnya kami makan di restoran muslim dengan menu mirip di kantin kantor kami, dengan sekali makan sekitar 4-5 USD. Oya mata uang di sini adalah riel, namun sering kali menggunakan mata uang US Dollar. Satu riel sekitar 2,7 rupiah, untuk kurs pada saat ini. Ongkos naik tuk-tuk, dihitung perorang yaitu USD 2 per orang. Oya harga premiun disini 5300 riel atau sekitar Rp 14.000,-, dua kali lipat lebih dengan harga di Jakarta. Tapi kayaknya premiun disini cukup bagus, mengingat ketika kondisi macet di jalan, tidak terasa bau bensin atau sesak nafas akibat polusi udaranya.
Selesai makan siang, kami menuju tempat pembantaian rezim Polpot, di Choeung Ek, Genocidal Center,  menggunakan tuk tuk, sekitar 15 km dari pusat kota Phnom Penh. Ongkos per orang 5 USD. Untuk masuk ke tempat tersebut, dikenakan biaya 6 USD. Hebatnya tempat wisata sejarah ini, bisa dikemas dengan unik, sehingga memiliki nilai jual yang cukup tinggi, terlihat dari banyaknya wisatawan asing yang mengunjungi tempat tersebut. Tiap wisatawan yang masuk diberi headset + recorder, dalam berbagai bahasa tergantung pilihan kita. Lalu wisatawan jalan ke suatu titik dengan nomor tertentu, lalu kita tekan nomor sesuai lokasinya, maka dari recorder tersebut akan muncul penjelasan cerita tentang latar belakang titik lokasi yang kita datangi. Begitu seterusnya sampai puluhan titik lokasi yang tersedia di tempat ini. Ternyata korban pembantaian Pol Pot, dapat dikemas sehingga memiliki nilai wisata sejarah, terlihat para wisatawan asing yang mendengarkan dengan serius dan banyak diantaranya yang memberikan setangkai bunga, tanda simpati pada korban, yang tinggal tulang tengkoraknya saja yang dipajang di dalam sebuah gedung. Kalau diterapkan di negeri ini bisa gak ya? Padahal korban pembantaian di negeri kita sangat jauh lebih banyak.
Keesokan harinya, acara utama yaitu 51st The ASEAN Federation Land Surveying and Geomatics Council Meeting, dilaksanakan di Tonle Mekong Room, Cambodiana Hotel, dihadiri sekitar 40 delegasi dari berbagai negeri di ASEAN. Dari Indonesia dihadiri oleh 4 orang, 3 dari BIG dan satunya lagi adalah Ibu Diah Kirana (purnabakti BIG, mantan President ASEAN FLAG). Begitu juga hari kedua, di tempat yang sama, dilaksanakan seminar tentang Land Reform di Kamboja, dari mulai masa pendudukan Perancis, masa rezim Khmer, masa Pol Pot dan saat ini. 


Di sela-sela kesempatan seminar, kami sempat mengunjungi dua buah masjid di Phnom Penh. Masjid pertama, adalah masjid Darussalam, di tepi Sungai Mekong. Masjid ini terletak di lingkungan padat penduduk, yang kebanyakan beragama Islam. Muslim sendiri di Kamboja adalah minoritas dengan komposisi sekitar 2-5% dari jumlah penduduk Kamboja. Di masjid ini, kami bertemu dengan Ust Imron, yang baru saja selesai mengajar. Beliau fasih dalam berbahasa Melayu. Ustadz Imron adalah keturunan orang-orang Champa, salah satu provinsi di Kamboja. Konon kabarnya wali Maulana Malik Ibrahim yang sangat terkenal di nusantara, dalam perjalanan dakwahnya pernah singgah di negeri Champa, dan mempunyai seorang istri dari Champa.

Masjid berikutnya, kami mengunjungi masjid yang cukup besar, yang dalam tahap renovasi, yaitu masjid Al Serkal, yang terletak di Village 6, Sres Chok Commune, Donpenh District, masih di wilayah perkotaan Phnom Penh. Masjid ini dibangun bekerja sama dengan Pemerintah Kuwait, dengan donatur dari Uni Emirat Arab, yang bernama Sheikh Eisa bin Nasser bin Abdullatif Al Serkal. Konon kabarnya pula, dulu masjid ini terbengkalai dan sempat dijadikan diskotik, namun akhirnya dibangun kembali oleh donatur dari UEA tadi.
Untuk berbelanja oleh-oleh yang murah meriah, setidaknya ada dua pilihan lokasi, yaitu Rusian Market dan Central Market. Dengan menggunakan tuk-tuk, kami bertiga meluncur ke Rusian Market, karena penasaran dengan namanya dan dalam benak kami, bakal banyak barang-barang dari Rusia yang dijual disana. Nyatanya bukan demikian ternyata, ketika kita memasuki pasar tersebut terlihat kumuh seperti pasar Johar, Semarang, hehehe...atau pasar Kanoman di Cirebon. Yang ada tempat jualan baju-baju, dan souvenir khas Kamboja, seperti hiasan Angkor Wat, T-Shirt, gantungan kunci, kain-kain, dan pernak-pernik lainnya. Memang disini harga-harganya termasuk murah, tergantung dari kelihaian penawaran kita.
Akhirnya di hari keempat, dari Phnom Penh International Airport, kami kembali ke tanah air, menggunakan Malaysia Airlines, dengan transit di Kuala Lumpur. Memang tidak ada penerbangan langsung, antara Jakarta-Phnom Penh. Mudah-mudahan perjalanan ini bisa membawa manfaat khususnya bagi diri pribadi maupun orang lain, maklum perjalanan dinas ini dibiayai oleh rakyat negeri ini.

Phnom Penh, 26 Oktober 2013